SCROLL
40
1 / 6

Gua Geoarkeologi Wadjakensis

Gamping, Kec. Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66272

Kompleks Gua Geoarkeologi Wajak memiliki nilai terkemuka karena mengandung rekaman ilmiah penting yang menjadi bukti kehidupan awal Pulau Jawa. Dari aspek ilmiah, situs ini mencatat jejak kehidupan di Pulau Jawa sekitar 40-35 juta tahun yang lalu. Lokasi ini juga berpotensi mendukung pariwisata di Desa Gamping, serta menjadi objek penelitian, pendidikan kebumian, dan geowisata. Batugamping di situs ini termasuk bagian dari Formasi Campurdarat yang berumur Miosen Awal, dengan bentang alam yang terdiri dari batugamping memanjang, beberapa ceruk, dan gua alami akibat proses Normal Slip Fault dengan bidang sesar N2950E/700.

Pada tahun 2022, Pemerintah Kabupaten Tulungagung berhasil mendapatkan replika asli skala 1:1 dari tengkorak Homo Wadjakensis dari Museum Belanda, menambah nilai penting situs ini. Situs ini menunjukkan hubungan sejarah geologi mengenai pembentukan goa-goa karst pada batugamping Campurdarat dengan penemuan arkeologi Homo Wadjakensis dan berbagai fosil hewan. Gua-gua karst ini, yang terbentuk pada Kala Miosen Tengah dan kemudian digunakan sebagai tempat perlindungan oleh Homo Wadjakensis pada Kala Pleistosen Akhir-Holosen, menawarkan wawasan tentang adaptasi manusia purba terhadap lingkungan mereka. 

Penemuan fosil Homo Wadjakensis di situs ini merupakan penemuan fosil manusia purba pertama di Indonesia dan menjadi titik awal bagi penemuan fosil manusia purba lainnya seperti Homo erectus (Manusia Jawa) oleh Eugene Dubois di Sangiran, Sambungmacan, Trinil, Ngandong, dan Mojokerto. Homo Wadjakensis, yang hidup pada periode arkeologi Mesolitikum sekitar 10.000-5000 tahun yang lalu, merupakan subspesies dari Homo sapiens (manusia modern), berbeda dengan Homo erectus yang hidup pada periode arkeologi Paleolitikum selama Kala Pleistosen. 

Keterkaitan antara warisan bumi di Kompleks Gua Geoarkeologi Wajak terlihat dari interaksi kompleks antara warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya. Warisan geologi seperti ketidakselarasan ini memberikan wawasan mendalam tentang sejarah dan evolusi bumi, termasuk perubahan lingkungan dan proses geologis yang membentuk wilayah tersebut. Keanekaragaman hayati di daerah ini, yang dipengaruhi oleh perubahan geologi, mencerminkan adaptasi flora dan fauna terhadap lingkungan yang berubah dari laut dalam menjadi laut dangkal. Warisan budaya setempat juga terhubung erat dengan warisan geologi dan keanekaragaman hayati, karena masyarakat lokal telah lama berinteraksi dengan dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka. Tempat ini tidak hanya menjadi pusat penelitian dan pendidikan, tetapi juga memainkan peran penting dalam melestarikan sejarah geologis, ekologi, dan budaya daerah tersebut, menunjukkan bagaimana elemen-elemen ini saling mendukung dan memperkaya satu sama lain.

Timeline

  1. Penemuan tengkorak pertama Wajak (Wajak 1)

    28 Oktober 1888, ahli pertambangan Belanda B.D. van Rietschoten menemukan tengkorak manusia purba di Desa Gamping (kawasan Wajak)

  2. Penelitian Dubois dan penemuan kedua (Wajak 2)

    September–Oktober 1890, Eugène Dubois melakukan eskavasi di lokasi Wajak dan menemukan rahang atas/bawah plus gigi manusia purba di kawasan yang sama.

  3. Penemuan kembali lokasi gua yang diyakini sebagai situs Wajakensis

    ditemukan dan dikonfirmasi kembali lokasi gua yang diyakini tempat temuan manusia Wajakensis di Tulungagung oleh tim lokal.

  4. Penghentian sementara penggalian Situs Wajak-2

    Mei 2016 tim geologi menghentikan sementara penggalian di Situs Wajak-2 Desa Gamping karena belum menemukan temuan signifikan manusia purba; menandai fase konservasi/peninjauan.

  5. Penyerahan dokumen Aspiring Geopark Tulungagung

    September 2024, Pemkab Tulungagung melalui Bappeda menyerahkan dokumen Penilaian Aspiring Geopark ke Badan Geologi Kementerian ESDM

Conservation

Status:
Dalam Usulan Geopark Nasional
Public Access:
Active
Daily Visits:
20
Managing Authority:
Bappeda Tulungagung
Protection Law:
usulan penetapan geopark nasional
Feature Type:
Karst batugamping
Geological Age:
???
Ecosytem:
Terestrial/hutan peri-karst di kawasan batugamping; gua dan ceruk alami yang kemudian digunakan manusia/fosil fauna
Threat:
Aktivitas ekskavasi/penggalian lama, Keterbatasan Regulasi

Public Facilities

Area Parkir Terbatas
Akses Jalan Sulit
Mulut Gua Alami
Jalur Susur Gua
Spot Foto Alam / Fosil
Papan Informasi Sejarah
Area Alam Terbuka

Related Geosites

Gua Berfosil Tenggar

Goa Berfosil Tenggar memiliki keterkaitan yang erat antara berbagai aspek warisan bumi, menciptakan interaksi yang kaya antara geologi, arkeologi, dan ekologi. Dari perspektif geologi, goa ini memberi

Gua Tritis

Salah satu destinasi wisata alam dan sejarah di Tulungagung yang menarik untuk dijelajahi. Gua ini memiliki lorong-lorong alami yang terbentuk dari batuan karst, memberikan pengalaman petualangan unik

Gua Selomangleng

Destinasi wisata alam dan sejarah yang terkenal di Kabupaten Tulungagung. Gua ini memiliki formasi batuan alami yang menakjubkan, dengan lorong-lorong yang cukup luas untuk dijelajahi. Selain keindaha

Gua Pasir

Destinasi wisata alam yang memikat dengan keunikan formasi batuan pasir yang terbentuk secara alami. Gua ini terletak di kawasan pegunungan dan menyajikan lorong-lorong kecil yang menantang untuk dije